Langsung ke konten utama

Filsafat Imam Ghazali



Ratusan ulama pejabat pemerintahan, dan yang berkuasa menghadiri perkuliahan Imam Ghazali. Antusiasme para intelektual kala itu karena penyampaian perkuliahan al-Ghazali logis, dan dialogis. Argumen, pemikiran, serta fatwanya biasanya bersifat faktual akan tetapi tidak meninggalkan atsar-atsar pendapat ulama sebelumnya. Kebanyakan bahan pengajaran Imam Ghazali dicatatat oleh Sayyid bin Faris, dan Ibnu Lubban. Keduanya mencatatkira-kira 183 bahan perkuliahan yang diberi nama Majalisul Ghazaliyyah..
Pergaulan beliau selama di sekitar madrasah Nizamiyah tidak terbatas pada orang muslim saja akan tetapi lintas mazhab dan pemikiran. Mulai dari berdialog hingga bertukar nalar dengan kaum Syiah, Sunni, Zindiq, Majusi, teolog, Kristen, Yahudi, Ateis, Zoroaster, dan Animisme. Dengan berdialog dengan mereka, pemikiran al-Ghazali dari fundamentalis berubah menjadi diri yang moderat. Karena dari pergaulan tersebut al-Ghazali mengambil prespektif lintas mazhab dalam mencari kebenaran Tuhan. Selain itu Al-Ghazali suka berkumpul dengan kaum Deis, Matrialis, dan filosof. Dari pergaulan tersebut al-Ghazali terpengaruh oleh penalaran bebas. Ide-ide lamanya luntur seiring hermeutik menjadi pegangannya kala itu.
Diri Imam Ghazali begitu berubah. Perubahan tersebut disebabkan oleh pemikiran rasionalis terhadap kebenaran yang menurutnya bisa diambil dari prespektif manusia intelek. Adapun perkataannya yang bertepi kepada aliran ekstensialis yaitu: [1]Aku telah menerobos setiap celah yang gelap, aku telah menyerang setiap persoalan, aku telah menyelam ke dalam setiap lautan. Aku telah meneliti akidah semua sekte, aku telah menelanjangi semua doktrin rahasia semua komunitas. Semua ini kulakukan agar aku dapat membedakan antara kebenaran dan kesesatan, antara yang sahih dan pembaruan yang bid’ah.
Ide bebas al-Ghazali tentang semua sekte dan agama seolah dirinya bingung dan menghadapi persoalan. Timbulah skeptisme di dalam dirinya bahwa semua aliran intinya mencari cahaya kebenaran. Cahaya kebenaran itulah di refleksikan melalui tekhnik hissyiyat yaitu aliran filsafat yang naturalistik yang datang dari hati. Timbulah pertanyaan dalam diri al-Ghazali: aliran manakah yang betul-betul dari semua aliran itu.[2]
Keadaan al-Ghazali semakin tertekan dengan kondsi bahwa keraguan terhadap kebenaran akal rasionalnya. Hal itu bermula dari polemik pemikiran al-Farabi dan Ibn Sina yaitu mencari realitas sejati berupa penggalian radikal terhadap gejala-gejala objektif yang dipandang oleh diri manusia dan dunia. Pemikiran Farabi soal tujuan akhir manusia yang istimewa terletak dari keunggulan dari nilai dan perbedaan khusus relative manusia.[3] Sehingga al-Ghazali berargumen bahwa para Faylasuf tersebut telah menimbulkan persoalan.
Di dalam buku Tahafut Falasifah al-Gazali berujar bahwa jika falsafah membatasi diri pada fenomena duniawi yang teramati, seperti halnya kedokteran, astronomi, atau matematik, tentu ia akan sangat berfaedah tetapi tidak mampu menyatakan apa-apa tentang Tuhan. Bagaimana mungkin orang yang bisa membuktikan doktrin emanasi, entah dengan cara apa pun? Berdasarkan autoritas apa para faylasuf telah menyimpulkan bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat umum dan universal, bukan yang pertikular? Bagaimana membuktikan ini ? Apakah Apakah iman yang teguh menjadi mustahil?[4]
Saat pertanyaan-pertanyaan itu timbul al-Ghazali terkukuhkan sebagai filsuf muslim, karena karakteristik falsafahnya yang unik. Keunikan tersebut terlihat sejak ia mengikuti aliran Hissiyyat yaitu aliran perasaan yang bisa merasiokan yang bersifat naturalistik. Aliran ini sama dengan filsuf Inggris David Hume (1711 – 1776) yang mengemukakan bahwa perasaan adalah sebagai alat yang terpenting dalam falsafah, di waktu dia menentang aliran rasionalisme, yaitu satu aliran falsafah yang timbul abad XVIII. Yang semata-mata berdasar kepada pemeriksaan panca indera dan akal manusia.
Melalui filsafat hissyiyat tersebut al-Ghazali semakin tertekan. Dia kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, mulai dari kehilangan selera makan hingga rasa putus asa. Sekitar tahun 1094, Dia merasa tidak mampu lagi untuk berbicara dan memberi kuliah. “Tuhan telah melumpuhkan lidahku sehingga aku tidak bisa mengajar. Aku penah memaksakan diri untuk mengajar murid-muridku di suatu hari, namun lidahku tak mampu mengucap sepatah kata pun”.[5]


[1] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, Jakarta: Mizan, 2009, hlm 254
[2] Harun Nasution, Falsafat &Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978, hlm 41
[3] James Wiston, 2002, Sufi-sufi Merajut Peradaban, Jakarta: Forum Sebangsa, hlm 4
[4] Karen Amstrong, Loc.cit, hlm 256
[5] Ibid
Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Surat Makkiyah dan Madaniyah

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Banyak ideologi di bumi ini yang terus berkembang demi melanjutkan dan mempertahankan kehidupan di muka bumi. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan empiris dan rasionalis untuk menjawab tantangan zaman yang terus berjalan. Dimensi ideologi yang kita kenal yaitu Komunisme, Liberalisme, Feodalisme, dan lain-lain. Semua ideologi tersebut sudah dijalankan di beberapa negara tetapi hampir semuanya berdampak negative bagi negara-negara yang menumbuhkan ideologi tersebut. Di dalam makalah ini penulis akan memperkenalkan civilizisme dalam islam untuk mencari kemaslahatan untuk umat muslim di dunia khususnya di Indonesia. Civilizisme dalam islam yang dimaksud yaitu hukum syari (premier things) yang bersumber dari al-Quran. Kenapa al-Quran disebut “Premier Things” untuk kaum muslim ? Karena semua solusi dari permasalahan hidup termaktub dalam kitab yang juga dikenal al-Furqan (pembeda) tersebut. Di dalam al-Quran terdapat dua terminology yaitu fase makkiyah…

Metode Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa

BAB I
PENDAHULUAN


I. Latar Belakang

            Metode pembelajaran merupakan suatu cara bagaimana seorang guru menjalankan suatu prosedur dan pelaksanaan pembelajaran. Metode tersebut ada karena sebuah signifikansi dari sebuah pembelajaran agar siswa dan guru dapat berinteraksi dengan baik. Pemilihan metode pembelajaran yang baik adalah metode yang menyesuaikan pada pelajaran yang akan disampaikan guru. Tujuan dari metode pembelajaran yakni cara mengarahkan guru dalam menyampaikan pelajaran secara baik agar dapat diterima oleh murid-murid secara jelas.
            Penulis disini akan menggunakan metode komunikatif dalam proses pembelajaran. Menurut penulis metode tersebut sangat cocok bagi pembelajaran bahasa. Dalam metode ini dituntut komunikasi dua arah bagi guru dan si murid (two-ways) . pada komunikasi itu sendiri mempunyai salah satu tujuan yang penulis anggap penting yakni behavior change (perubahan kebiasaan)[1]. Melalui behavior change, pemerolehan bahasa target akan cepat dite…

Huda Linnas

I. Al-Quran Sebagai Petunjuk
            Al-Quran adalah sumber hukum pertama bagi umat islam dan sebagai kitab petunjuk (hudan) yang dapat menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Ia adalah kitab kehidupan. Sebagaimana Allah telah berfirman :
 ذلك الكتاب لاريب * فيه * هدًى للمتّقين
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS : Al-Baqarah :26)
 نزّل عليك الكتب بالحق مُصَدّقاً لمّا بين يديه و اَنزل التورـــة  و الاِنجيل Dia Menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab sebelumnya) dan menurunkan Taurat dan Injil. (QS : Ali Imran :3) 
Melalui kedua ayat tersebut bisa kita ambil hikmah yang terkandung di dalam  Al-Quran diantaranya al-Quran merupakan sumber hukum yang bersifat valid dan reliable (terpercaya) karena Allah yang langsung memberikan statment untuk umatnya agar tidak menyimpang dari  apa-apa yang sudah ditetapkan. Banyak sesuatu tersingkap dari al-Quran diantaranya solusi masal…