Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari Oktober, 2012

Bersatulah umat muslim ku

Mayoritas muslim di dunia adalah Indonesia. Semua negara meng-iakan kalimat tersebut. Akan tetapi hal itu didekstuktifkan oleh kaum muslim Indonesia itu sendiri. Mulai dari penghilangan karakter atau identitas islam itu sendiri hingga bersikap tidak acuh terhadap kandungan kitab sucinya. Kata Inalillah aku ucapkan ketika aku mengetes seorang siswa muslim SMU dalam membaca al-Quran, lalu dengan lantangnya ia berkata "aku tidak bisa". Miris hati ini rasanya melihat seorang muslim yang sudah mengerti soal benar dan salah malah ia tidak tahu huruf hijaiyah. Mau kemana wahai kaum muslim. Apa kita tinggal diam saudaraku. 
Mulai dari diri sendiri. Mencintai apa yang dicintai Allah dan rasulNya. Banyak dari teman-teman kita yang beranggapan bahwa mencintai pekerjaan sunnah dan identitas islam adalah arabisme. Anggapan itu mengkerdilkan diri sendiri. Malahan dengan kita mencintai hal tersebut islam akan menjadi kokoh dan tidak akan rapuh. Kerapuhan muslim sudah terlihat dengan adanya…

Maknai Cinta dengan Kesadaran Seutuhnya

Sejauh mana kita membutuhkan cinta ? - Pertanyaan itu yang selalu ada di benak kita. Memang cinta adalah sebuah kata berjuta pesona bagi mahluk di muka bumi. Adapun penulis adalah cinta seorang anak manusia. Sang khalik menciptakan dua jenis insan laki-laki dan manusia. Dimana diantara keduanya untuk saling mengenal. Mengenal jalan agar meretas sebuah kata yaitu cinta. Namun prespektif cinta, jangan dibumbui oleh kata beci namun bilang cinta. Karena cinta datang dari hati. Hati ini yang menentukan seseorang itu berfikir secara andragogi. Berfikir untuk menciptakan sebuah penilaian secara positif. Sehingga eksistensi cinta hilang oleh kata benci. 
Rotasi mahluk di muka bumi selalu berjalan, seiring kehidupan ini masih ada. Kehidupan yang tidak ada menjadi ada. Sebagaimana Sang Rahman berkata KUN FA Ya KUN. Begitupun kata cinta yang tidak ada menjadi ada pada diri seorang anak adam. Kahlil Gibran berkata jagalah cinta sebagaimana tukang anggur menjaga anggurnya tidak membusuk. Kata itu …