Langsung ke konten utama

Pendekatan Cognitive dalam pembelajaran Bahasa



I. Latar Belakang         

            Diketahui bahwasannya di dalam ilmu psikologis berorientasi ke arah behaviorisme. Behaviorsme begitu dominannya pada aspek-aspek pengajaran dan pembelajaran. Hal tersebut dimulai pada abad ke 20 hingga berakhirnya pada enam dekade berikutnya.. Pada abad pertengahan disebut masa pendidikan.

Sesungguhnya pandangan aliran behaviorisme dari kalangan psikolog bersama  pandangan aliran structural dari kalangan ahli bahasa sepakat kepada pembiasaan bahasa dan tehnik pemerolehan bahasa, dalam kesepakan ini Tablo berhasil mengorientasikan pskiologis berbahasa yang dikenal sebagai behaviorisme strukrral.

Pada awal abad ke-5 hasil-hasil ini mensejajarkankan orientasi ini dalam program pembelajaran bahasa asing sebagaimana pendekatan menyimak berbicara, contohnya ada di dalam metode menyimak berbicara.

Orientasi cognitive pada ilmu psikologis telah tampak pada waktu awal abad ke duapuluhan, akan tetapi cognitive belum mendominasi bidang pengajaran dan pembelajaran kecuali pada pertengahan dekade kedua berikutnya. Lebih spesifik lagi ketika Ausubel  menerbitkan buku yang di dalamnya terdapat ilmu psikologi pendidikan pada tahun 1968 yang  berjudul Educational Cognitive View berdasarkan sumber pokok di dalam teori ini. Buku tersebut berkaitan dengan teori pada aspek pengajaran dan pembelajaran. Di dalam buku ini Ausabel memandang bahwasannya pembelajaran seharusnya memiliki arti yang dalam bagi si pembelajar. Dengan menghubungkan struktur dan pikirannya, sekiranya melibatkan identitasnya. Maka hal itu menjadi penolong bagi si pembelajar untuk memahami hidup dan dunia dan sebagainya. Ausabel yakin bahwasannya pembelajaran jenis ini tidak selamanya memajukan informasi bagi si pelajar secara seimbang dan serasi. Hal ini berdasarkan hubungan baik informasi pembelajaran yang baru maupun yang terdahulu.

Ketika Noam Chomsky menjelaskan kritiknya terhadap strukturalis dan behavoris pada 1959 lalu mengesahkan pandangannya cognitive naturalistic di dalam prespektif pembiasaan bahasa dan tehnik pemerolehannya. Berdasarkan hal itu berakhirlah orientasi behaviorisme sturkturalis di dalam penelitian psikolinguistik. Secara perlahan behaviorisme sturkturalis terpisah dari orintasi cognitive naturalistic.

Selain itu Noam Comsky memandang cognitivisme adalah bukan hal yang baru dalam bidang ilmu psikologi, akan tetapi  di dalam cognitivisme terdapat penjelasan “Linguistic Attitude” : penjelasan dekriptif rasonalis. Selain itu Chomsky menegaskan bahwa bukanlah seorang ahli bahasa yang diperhatikan dari aspek bahasa dan aspek formalnya saja, namun yang dinamakan seorang ahli bahasa itu adalah “plinguis psikogis” yang berpandangan bahwa penelitian bahasa pada manusia dilihat dari sisi psikoliguistik cognitive. Lalu bagaimana menerapkan prosedur-prosedur rasionalisme yang menyempurnakan hal itu. Beliau menekankan pada penelitian structural linguistic agar keformalitasan yang tampak.

Pada permulaan pergerakannya Chomsky telah memperhatikan  cara anak kecil memperoleh dan meniru bahasa  ibu, atas bantuannya kalangan “cognitivis naturalis” mencoba menghubungkan orientasi ini di dalam menafsirkan pemerolehan bahasa kedua. Kemudian sekiranya mereka mengubahnya kepada pendekatan bahasa yang diimplementasikan yang dikenal dengan pendekatan cognitive di dalam pembelajaran linguistic.

            Chomsky telah menelaah pendekatan ini dengan berbagai terminology, diantaranya : teori cognitive, teori cognitive untuk mempelajari simbol kebahasaan, teori pemehaman dan anailsa symbol kebahasaan. Pendekatan cognitive, pendekatan cognitive untuk mempoelajari bahasa-bahasa, metode cognitive, metode-metode cognitive, dan lain-lain. Padahal terminology-terminologi tersebut menunjukan satu arti yakni apapun yang kita bahas dari tujuan itu bukanlah dengan metode arti pembiasan yang dikenal oleh para behavioris. Hanya saja salah satu pendekatan dan satu pengantar dari banyaknya pengantar pembelajaran foreign language. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai dari metode masuk di dalamnya untuk menghubungkan gambaran yang berbeda dari tehnik-tehnik procedural dan  ketangkasan.


II. Tujuan-tujuan pendekatan kognitif dan pandangannya :

1.      memperhatikan pembentukan kecerdasan berbahasa pada pembelajar. Berdasarkan kedekatan bahasa dari kecerdasan para penutur dengan menggunakan bahasa tujuan,  menjadikan sebuah keinginan pembelajar untuk  tidak ditetapkan  pada dirinya, dan untuk pembelajar menguasai aspek kecerdasan diatas aspek pelaksanaan.
2.      Sarana yang ideal untuk membentuk  penguasaaan aturan bahasa tujuan pada si pembelajar di dalam ilmu fonetik, sintaksis, dan morfologi dengan teknik  rasio cognitive yang inovatif. Hal ini untuk siwa untuk mwnempatkan pembiasaan kalimat dan ekspresi tanpa mendengar sebelumnya, dan untuk menjadikan si pembelajar mampu beradaptasi di dalam menyesuiakan bahasa yang berhubungan tanpa melalui bahasa sebelumnya.
3.      mengisyaratkankan para pembelajar untuk mementingkan aturan-aturan di dalam pemerolehan bahasa,menegaskan aturan yang terkodifikasi pada bahasa, dan bahasa bukan suatu problem acuan dasar yang meletakan hafalan dan pengembalian bahasa  di dalam menyesuaikan bahasa arab.
4.      menerapkan kekuatan berfikir pada siswa di dalam mempelajari bahasa melalui latihan berdasarkan hasil, menggunakan aturan induktf dan deduktif sebagai aplikasi yang berdasarkan atas generalisasi
5.      Menjadikan pembelajaran memiliki arti pada pelajar, pelajar diharuskan fokus terhadap aspek makna dan pemahamannuya pada bahasa. Pembelajar dapat mengkorelasikan pengalaman dan skill sebelumnya, sebelum pengulangan susunan dan kemampuan hafalan, tetapi secara teori sebelum  masuk pada penghafalan aturan-aturan tersebut.  Siswa harus mengetahui tujuan-tujuan kegiatan yang berjalan pada aturan-aturan tersebut.
6.      Pengajar memproritaskan mahasiswa-mahasiswanya yang mengetahui tentang aturan kaidah-kaidah bahasa, pemerolehan bahasa secara umum, kaidah-kaidah bahasa tujuan dan unsur-unsurnya penyifatannya secara detail, sebelum melangkah kepada pengetahuan baru untuk mereka.
7.      Si pembelajar harus mengetahui pokok pikiran pada materi ilmiah atau teks. Lalu ia mengira sisi mana yang mengurangi materi tersebut baik dari kata dan idiom. Untuk mengingat informasi sebelumnya hendaknya si guru memberikan latihan pada murid-muridnya, serta membantu mereka dalam penyelesaian karena hal ini lebih baik digunakan di dalam tehnik ini.
8.      mementingkan pemisahan secara individualistis diatara para pembelajar, dengan mengkhususkan pada empat bidang kemahiran, karena setiap manusia memiliki cirri khusus pada dirinya di dalam memahami kemahiran-kemahiran tertentu tanpa keempatnya.
9.      Pandekatan ini tidak membatasi pola-pola tertentu atau tehnik-tehnik tertentu di dalam pembelajaran, akan tetapi guru memberikan kebebasan memilih tehnik-tehnik, prosedur-prosedur dan peraturan kebebasan tersebut. Pendekatan cognitive ini menghendaki perlakuan yang sesuai, aliran ini menganggap cocok untuk mahasiswa, dari indivdulistis tersebut di antara mereka akan tercipta pertukaran pendapat.
10.  aliran ini tidak melarang bantuan bahasa ibu di dalam pembelajaran atau sebagai penengah, selama bahasa ibu tersebut berkontribusi  di dalam siswa memahami pelajaran secara kesluruhan.
11.  percakapan dan latihan-latihan dengan segala macamnya bukanlah bagian yang diperhatikan di dalam metode ini, akan tetapi si guru mengharuskan keduanya jika dibutuhkan.
12.  koreksi kesalahan berbahasa merupakan bagian dari aktifitas-aktigitas berbahasa di dalam kelas, selama koreksi tersebut meminta dari pembelajar untuk menggunakan  bahasa target  dengan pengetahuan bebasnya pada aturan-aturan berbahasa.
13.  pembelajaran bahasa melalui pendekatan ini dapat meluruskan satu kesalahan, memprioritaskan pemahaman yang utuh, meneliti ketersusunan secara bebas, sampai selesainya kegiatan, materi materi tersedia diatas prosedur-prosedur ini, yang diikuti metode deduktif, induktif atau prnganalogian.


Teori dan pengantar

    Dari sebelumnya kami telah mengetahui bahwasannya apa-apa yang kita bicarakan tentang kognitif disini tidak tersedianya metode pembelajaran yang pasti, akan tetapi kognitif adalah aliran, pendekatan atau kumpulan metode-metode yang menelaah teori rasionalitas, dan apapun tentang rasio telah keluar dari metode naturalistic dan pengadaan percobaan, bahwa  pemilik-pemilik rasionalitas memandang bahasa itu bukanlah membentuk kesukaran dan kerangka dasar, tetapi juga dia (bahasa) adalah sebuah peraturan yang kompleks dari aturan-aturan yang potensial di dalam akal manusia sejak lahir. Lalu penelitian bahasa seharusnya tidak membatasi aturan-aturan dan pembentukan bahasa , akan tetapi mentransmisikan peraturan itu kepada ketinggian aturan-aturan tersebut melalui penelitian tentang tehnik-tehnik pemerolehan dan pertumbuhan bahasa serta posedur-prosedur rasio yang diabsahkan di dalam aturan tersebut.  
  
Di dalam pemerolehan bahasa, Pendekatan ini (kognitif0 bermula dari teori natural rasionalistik. Para pengkaji teori tersebut memandang bahwasannya pemerolehan bahasa secara natural humanisti, yang artinya manusia yang meciptakan atau didik dalam lingkungan yang dibatasi. Manusia memperoleh bahasa dengan mudah dengan mengetahui aturan-aturan dan cara pemerolehan di dalam hal konsepsinya. Bahasa menjadikan manusia mampu untuk menerima bentuk dan susunan yang benar serta manusia bisa menolak bentuk-bentuk dan susunan-sunan yang salah jika aturan-aturan tersebut belum dipelajari di dalam penelitian dengan metode sistematis.

    Pada pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing, di dalam metode ini, pembelajaran betumpu dari INNATENESS HYPOTHESIS dalam memperoleh bahasa kedua. Hal tersebut yang salah satu teorinyya adalah cognitive naturalistic yang para pengkajinya menuturkan bahwasannya mempelajari bahasa kedua dengan cara natural humanistic. Natural humanistic bergantung pada aspek-aspek rasionalitas yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Oleh karena itu manusia harus menjauhi High form activity or High pattern activity di dalam pengajaran bahasa kedua.

Fungsi-fungsi setiap guru, pembelajar, dan materi pembelajaran

    Pada sebelumnya metode ini  memahami bahwasannya pembelajaran bergantung pada aspek rasionalitas, serta memperkenalkan aturan-aturan bahasa tujuan dengan metode yang sistematis di dalam kurikulum, silabus, dan dikelas. Juga metode ini memperhatikan struktur yang biasa diketahui dalam membantu  pembelajaran bahasa  yang  sesuai dengan tehnik-tehnik ini. Berarti hal ini sudah mecakup unsure unsure-unsur aktifitas pembelajaran dari para pengajar, para pembelajar, dan materi-materi pembelajaran. Ketiganya mengambil peranan penting dalam metode ini. Meskipun materi pembelajaran lebih dipentingkan dari kesemuanya, sebagai contoh dalam aturan berbahas, lalu berikutnya pengajar kemudian pembelajar.

Di dalam kelas

      Memprioritaskan satu contoh soal yang sukar pembahasannya dengan satu metode atau kumpulan metode, sebagaimana situasi kognitif disini, karena itu kita akan memprioritaskan kumpulan dari prosedur dan aktifitas yang dicontohkan di dalam kumpulan soal pelajaran di dalam pembelajaran bahasa arab yang sesuai dengan metode ini, sebagaimana contoh berikut :

1.      Guru mempersiapkan pelajaran berjudul naat di dalam bahasa Arab, dengan  penyifatannya secara nahwiyah, tinggi atau umum penggunaanya, dan guru  menyisipi judul-judul tersebut pada buku-buku teks.
2.      pengajaram masuk kelas dengan memberi salam kepada mahasiswa dengan ditangannya memegang kertas  transparan, yang telah ditulis padanya kumpulan dari kalimat naat yang menyifati cirri seseorang dengan beraneka macam bentuk, seperti isim fail pada wazan fail, fail, mufail, dan isim maful pada wazan maful dan fail dan sebagainya.demikian juga di dalam ketetapan bentuk
3.      pengajar membacakan setiap kalimat masing-masing tiga kali, dengan gambar yang sesuai pada kalimat tersebut melalui isyarat di sepanjang penunjukan gambar tersebut.
4.      pengajar memulai penjelasan aturan pemakaian setiap bentuk, dan terkadang penjelasan menggunakan bahasa ibu, dengan terutama di dalam tahapan-tahapan awal dari pembelajaran, kemudian mentranslate dalam bahasa Arab atau keduanya bersamaan.
5.      pengajar menuju kepada latihan-latihan awal untuk menegaskan pemahaman para mahasiswanya kepada kaidah-kaidah pelajaran, lalu meminta dari mereka sifat yang sesuai pada gambar, atau sifat dari diri mereka sendiri dan juga teman-teman mereka, kemudian pengajar memaparkan persamaan kata-kata mereka untuk kata-kata sebelumnya, di dalam pelajaran kalimat. Kemudian terkadang pengajar meminta dari mereka menggunakan kata-kata yang baru  lalu meletakan sifat di dalam kalimat yang sempurna. Lalu pengajar membagi mahasiswa ke dalam kelompok, setiap kelompok memberikan beberapa kata-kata. Kalimat harus sesuai dengan sifat atau gambar atau cirri-ciri tertentu, kemudian ketua dari setiap kelompok menuliskan di papan tulis apa yang sudah dihasilkan kelompok
6.      pengajar menentukan bagian akhir dari pelajaran dengan pengaplikasikan yang diperluas, maka pengajar membagi lagi mahasiswanya ke dalam 3 kelompok, setiap kelompok diberikan kartu percakapan, kedua kartu mengandung 5 permasalahan/ contoh yang tertulis dengan bahasa ibu, dengan penggunaan katakata yang mereka buat dalam teks atau latihan-latihan sebelumnya, kartu ketiga berisikan contoh-contoh yang ada di dalam kedua kartu pertama sedangkan kartu kedua ditulikan dengan bahasa Arab. Kedua kelompok berusaha membawa contoh yang tertulis dalam bahasa ibu. Lalu bahasa ibu tersebut di terjemahkan ke dalam bahasa target dan digunakanlah bahasa target di dalam percakapan pendek.. Lalu disaat bersamaan kelompok ketika melaksanakan pengontrolan percakapan mereka untuk menegaskan untuk meyakini kebenaran dan kesesuaian percakapan tersebut dengan teks yang ada di dalam kartu ketiga.
7.      kemudian para mahasiswa berpartisipasi di dalam percakapan yang berhubungan dengan penggunaan kata-kata dan idiom-idiom yang digunakan mereka di dalam latihan-latihan sebelumnya. Dan terkadang pengajar meminta dari mahasiswanya untuk meringkas percakapan percakapan tersebut untuk ditempatkan di dalam teks atau dialog atau cerpen.

Penilaian metode :

1. Kelebihan metode ini :
a)      memperhatikan language profiency, berdasarkan sempurnanya/ keberlangsungan  sitematika pelajaran di dalam latihan pada aturan-aturan dan kata-kata yang baru, lalu penggunaan kata-kata tersebut di dalam hubungan-hubungan percakapan dan aktifitas yang memungkinkan untuk penciptaan dan penggantian percakapan
b)      memperhatikan kebenaran bahasa yang tersirat secara terus menerus/ berkesinambungan, mengkoreksi kesalahan di dalam keseluran kemahiran secara berbeda. Bagi sebagian metode yang memperhatikan satu kemahiran atau dua kemahiran dalam satu tujuan misalnya seperti kita ketahui di dalam metode aturan-aturan dan terjemah, dan metode audiolingual. Kognitif menekankan kepada kegiatan bahasa secara sadar dan memperkecil kesalahan pada kenyataan.
c)       Pengajar bukan hanya membantu mengkoreksi kesalahan, tetapi juga memperbaiki fanatisme berbahasa pada si pembelajar, dan dia yang menetapkan kesalahan dan menekan kesalahan tersebut sampai bagian dari tingkah laku berbahasa itu tampak
d)      menekankan kepada pembelajaran yang utuh, yang mana pembelajaran membentuk makna yang dimengerti dengan penyandaran para peneliti, melalui pemahaman yang sempurna selama memprioritaskan para peneliti di dalam kelas, pada aktifitas yang melaksanakannya.
e)      Memberikan para mahasiswa kesempatan bergabung melalui pengaturan dialog dan aktifitas berbahasa, dan membantu pada pembentukan proficiency bahasa.
f)        Menentukan hasil-hasil penelitian psiko linguistic yang baru secara ketentuan baku di dalam pembelajaran bahasa asing, serta peninjauan keseimbangan antara sebagian pola-pola pembelajaran



Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Surat Makkiyah dan Madaniyah

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Banyak ideologi di bumi ini yang terus berkembang demi melanjutkan dan mempertahankan kehidupan di muka bumi. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan empiris dan rasionalis untuk menjawab tantangan zaman yang terus berjalan. Dimensi ideologi yang kita kenal yaitu Komunisme, Liberalisme, Feodalisme, dan lain-lain. Semua ideologi tersebut sudah dijalankan di beberapa negara tetapi hampir semuanya berdampak negative bagi negara-negara yang menumbuhkan ideologi tersebut. Di dalam makalah ini penulis akan memperkenalkan civilizisme dalam islam untuk mencari kemaslahatan untuk umat muslim di dunia khususnya di Indonesia. Civilizisme dalam islam yang dimaksud yaitu hukum syari (premier things) yang bersumber dari al-Quran. Kenapa al-Quran disebut “Premier Things” untuk kaum muslim ? Karena semua solusi dari permasalahan hidup termaktub dalam kitab yang juga dikenal al-Furqan (pembeda) tersebut. Di dalam al-Quran terdapat dua terminology yaitu fase makkiyah…

Metode Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa

BAB I
PENDAHULUAN


I. Latar Belakang

            Metode pembelajaran merupakan suatu cara bagaimana seorang guru menjalankan suatu prosedur dan pelaksanaan pembelajaran. Metode tersebut ada karena sebuah signifikansi dari sebuah pembelajaran agar siswa dan guru dapat berinteraksi dengan baik. Pemilihan metode pembelajaran yang baik adalah metode yang menyesuaikan pada pelajaran yang akan disampaikan guru. Tujuan dari metode pembelajaran yakni cara mengarahkan guru dalam menyampaikan pelajaran secara baik agar dapat diterima oleh murid-murid secara jelas.
            Penulis disini akan menggunakan metode komunikatif dalam proses pembelajaran. Menurut penulis metode tersebut sangat cocok bagi pembelajaran bahasa. Dalam metode ini dituntut komunikasi dua arah bagi guru dan si murid (two-ways) . pada komunikasi itu sendiri mempunyai salah satu tujuan yang penulis anggap penting yakni behavior change (perubahan kebiasaan)[1]. Melalui behavior change, pemerolehan bahasa target akan cepat dite…

Seni Menurut Agama

Bab I
Pendahuluan


I.1. Latar Belakang

Sering kali beberapa tokoh beragama menganggap negatif terhadap seni. Sebenarnya seni menurut Islam dimubahkan selama seni tersebut membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia (Quraish Syihab:1996:349). Oleh karena itu manusia harus menciptakan seni dengan tidak melanggar syariat atau ketentuan Allah. Ciptakanlah seni yang membuat orang merasa tertarik dan bisa mengapresiasikannya dengan baik. Melalui makalah ini penulis mencoba menghubungkan antara seni dan agama. Insya Allah dalam makalah ini akan terjawab apakah seni perlu difilterkan oleh agama? Atau  agama ada berdasarkan seni? Apakah seni tanpa agama akan menyimpang.
            Tanpa kita sadari bumi yang kita singgahi merupakan sebuah implementasi seni dari sang Pencipta agar kita merenungi betapa agungnya ciptaan Allah. Tidak ada se…